Friday , 13 May 2022
Home / Uncategorized / Sang Begawan Peduli Negeri

Sang Begawan Peduli Negeri

Ciputra merupakan bungsu dari tiga bersaudara. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah. Di usia 12 tahun, ia sudah yatim lantaran ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, lalu meninggal dalam penjara.

Alih-alih berduka terlampau dalam akibat ulah penjajah Jepang yang merenggut nyawa ayahnya, sosok pengusaha super sukses ini justru melihat peristiwa itu sebagai cambuk untuk memotivasi diri. Demi meraih sukes, sejak usia 12 tahun ia hijrah ke Pulan Jawa untuk melankjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jurusan Arsitektur.

Sekitar 1957 atau saat masih duduk di bangku kuliah, semester IV, pria yang akrab disapa ‘Ci’ ini telah merintis usaha biro arsitek, PT Daya Cipta, bersama dua sejawatnya, Ir. Ismail Sofyan dan Ir. Budi Brasali. Salah satu kontrak penting yang memuluskan jalan Ciputra pada dunia bisnis pengembang di Indonesia adalah kesempatan untuk menangani proyek gedung bertingkat di Banda Aceh.

Nama Ir. Ciputra semakin kokoh dikenal sebagai ‘pakar pengembang’ yang banyak menangani kawasan elit di wilayah Indonesia. Beberapa megaproyek ditangani perusahaan besutan tokoh penerima berbagai penghargaan dunia bisnis tersebut seperti pembangunan Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya.

Pengusaha kelahiran 1931 ini mengendalikan lima kelompok usaha yang bergerak di sektor properti yaitu Jaya Group itu sendiri, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, dan Ciputra Development. Ciputra dan kelompok perusahaan pengembangnya telah menangani sekitar 11 proyek perkotaan elit termasuk Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Citra Westlake City di Jabodetabek, Surabaya, dan yang berlokasi di Vietnam.

Karena konsistensi dan banyaknya proyek yang dikembangkan dalam waktu hampir empat dekade, Ciputra lalu disebut-sebut sebagai Begawan Properti. Namanya pun semakin harum di dunia industri properti tanah air acap kali meluncurkan proyek prestisius.

Pada 1997 krisis ekonomi melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Badai resesi ini pun hampir menghempaskan tirani bisnis sang begawan yang telah dirintisnya puluhan tahun. Kala itu, tiga group perusahaan yang dipimpinnya; Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group, nyaris porak poranda akibat krisis global.

Alhasil, utang yang menumpuk mau tak mau harus dihadapi oleh Ciputra. “Periode ini merupakan masa yang sangat menyesakkan bagi saya. Namun dengan prinsip hidup yang kuat, saya mampu melewati masa itu dengan baik,” kisah Ci kepada The Benchamrk, baru-baru ini di Jakarta.

Berbekal keteguhan hati dan sifat pantang menyerah disertai ”keberuntungan” seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya, bisnis Ciputra pun bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.

Teranyar, melalui brand Ciputra World Jakarta (CWJ), pendiri Sekolah dan Universitas Ciputra ini tengah menyulap lahan seluas 15 hektar di Jl. Dr. Satrio, Jakarta Selatan, sebagai kawasan financial, shopping and art district layaknya Orchard Road di Singapura. Ini menjadi satu-satunya ‘Integrated Superblock’ at Golden Triangle Certal Business Distric (CBD), Kuningan.

Tak hanya itu, Ciputra melalui anak usaha PT Ciputra Puri Trisula memperkenalkan proyek mixed-use development terbaru, Ciputra International. Proyek kerjasama dengan Trisula Group di atas lahan seluas 7,4 hektar ini terletak di Jalan Lingkar Luar Barat, Puri Jakarta Barat.

Ciputra telah sukses melampaui semua zaman, mulai Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Ia sukses membawa perusahaan daerah maju dan akhirnya entitas bisnis keluarganya sendiri. Dia juga sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang terbaik di bidangnya, yaitu real estate.

Pada usianya yang ke-75, ketika akhirnya harus memikirkan pengabdian kepada masyarakat, ia lantas mengembangkan bidang pendidikan. Kemudian, berdirilah Universitas Ciputra. Bukan universitas biasa, tetapi lebih menitikberatkan pada entrepreneurship. “Melalui sekolah kewirausahaan ini saya ingin menyiapkan Indonesia menjadi bangsa pengusaha,” tutupnya.

Check Also

Raih Peringkat 9 Perguruan Tinggi Terbaik, Universitas Pancasila Catat Berbagai Prestasi

Universitas Pancasila Raih Peringkat Sembilan Dari 50 PTS Terbaik di DKI Jakarta

JAKARTA – Lewat kerjasama dan kerja keras civitas academica Universitas Pancasila, prestasi perguruan tinggi yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.