Sunday , 15 May 2022
Home / Uncategorized / Pemerintah Tunjuk Eximbank Garap Pembiayaan Ekspor

Pemerintah Tunjuk Eximbank Garap Pembiayaan Ekspor

JAKARTA – Pemerintah menunjuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), atau Indonesia Eximbank, untuk menyediakan pembiayaan ekspor atas proyek komersial mulai tahun ini. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan mengatakan penugasan ini diharapkan mampu menunjang proses ekspor pelaku usaha ke depan.

“Penugasan khusus ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 134/PMK.08/2015 tanggal 14 Juli 2015 lalu,” ujar dia di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat 14 Agustus 2015.

Menurutnya, pembiayaan untuk sektor itu dianggap belum optimal, sehingga dalam perjalannya, pertumbuhan ekspor dalam negeri perlu ditingkatkan untuk mengurangi besarnya volume impor pemerintah. Khusus penugasan itu, rencannya pembiayaan diberikan melalui program khusus ekspor NIA (National Interest Account) meliputi transaksi bagi proyek yang dianggap sulit dilaksanakan, tetapi dianggap perlu oleh pemerintah.

Untuk mendukung rencana itu ujar dia, pemerintah siap menggelontorkan dana pengelolaan yang dimasukan dalam anggaran penerimaan belanja negara (APBN) 2016. Meskipun ia enggan menyebutkan berapa besar pagu yang disiapkan pemerintah tersebut. ” Dana ini sengaja diberikan, agar keuangan LPEI tidak terganggu dalam penugasan ini,” ujarnya.
Ketua Dewan Direktur Eximbank Indonesia (LPEI) Ngalim Sawega menambahkan, penugasan itu menambah fungsi LPEI selain pemberian pembiayaan dan penjaminan, juga memberikan layanan kepada eksportir baru yang selama ini sulit dilakukan tetapi harus diberikan.
Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 134/PMK.08/2015 disebutkan, penugasan khusus ini diberikan secara selektif dan terbatas pada sektor ekonomi, komoditas, negara tujuan, kriteria pelaku ekspor dan pembiayaan ekspor. Sehingga ujar dia, aturan baru itu diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal dalam meningkatan cadangan devisa negara dalam jangka panjang. “Dengan sendiri diharapkan impor menurun, sehingga pertumbuhan juga semakin tinggi,” kata dia.
Hingga pertengahan 2015, tercatat biaya pembiayaan mencapai Rp 65,45 triliun, penjaminan sebesar Rp 4,67 triliun, asuransi mencapai Rp 968,4 triliun sedangkan total aset mencapai Rp 73,46 triliun. Rata-rata pertumbuhan pembiayaan tercatat sebesar 43,7 persen, kemudian pertumbuhan penjaminan 535,02 persen, asuransi 657,67 persen, sementara rata-rata pertumbuhan aset mencapai 36,58 persen. (Jay)

Check Also

Raih Peringkat 9 Perguruan Tinggi Terbaik, Universitas Pancasila Catat Berbagai Prestasi

Universitas Pancasila Raih Peringkat Sembilan Dari 50 PTS Terbaik di DKI Jakarta

JAKARTA – Lewat kerjasama dan kerja keras civitas academica Universitas Pancasila, prestasi perguruan tinggi yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.