Thursday , 12 May 2022
Home / Uncategorized / Mengenang Vietcong Hingga James Bond

Mengenang Vietcong Hingga James Bond

Chao Mung Den Vietnam (Selamat Datang di Vietnam). Salah satu negara Asean yang dilanda konflik perang saudara dan baru reunifikasi pada 1975 terus menggeliat di berbagai bidang termasuk pariwisata. Tidak seperti tetangganya (Thailand), Vietnam menawarkan paket pariwisata lebih ke ilmu pengetahuan, budaya dan sejarah.

Konflik antara selatan dan utara yang melibatkan blok negara barat dan blok timur justru dijadikan ‘jualan’ bagi pemerintah Vietnam. Terutama di Kota Ho Chi Minh/Saigon yang berada di selatan serta Kota Hanoi sebagai pusat pemerintahan Republik Sosialis Vietnam, yang berada di utara.

Sebagai contoh, di kota Ho Ci Minh, biro travel bekerja sama Kementerian Pariwisata Vietnam menawarkan paket wisata sejarah yakni city tour ke Central Old Post Office, Notre Dame Cathedral, dimana kedua bangunan eksotis tersebut berasitektur Perancis -seperti diketahui seluruh bangunan tua di Vietnam dirancang oleh Perancis yang menjajah negara-negara Indo China selama 100 tahun.

War Museum yang mengkoleksi ratusan foto serta benda-benda peninggalan perang Vietnam seperti pesawat tempur/helicopter, senjata, peluru, tank serta seluruh dokumen perang. Kemudian peserta tour melewati Reunification Palace, sebuah istana ex.

Pemerintahan Vietnam selatan serta terakhir mengunjungi Cu Chi Tunnel, sebuah terowongan bawah tanah sepanjang 200 kilo meter yang dibuat Vietcong. Di Chu Chi Tunnel, bahkan Pemerintah Vietnam menghadirkan tidak hanya replika tentara Vietkong, melainkan juga menghadirkan manusia lengkap dengan berbagai aksesoris tentara Vietcong yang menghadirkan suasana asli pada saat mereka melawan tentara AS beserta sekutunya. Luar biasa ‘niat’ mereka menghadirkan wisata sejarah yang benar benar nyata!!.

“Ayah saya pernah bertugas di Vietnam, tidak menyangka mereka menghadirkan kondisi apa adanya lengkap dengan jenis-jenis trap (jebakan), cara membuat persenjataan yang dirancang gerilyawan Vietcong”, ujar Ian Brady, turis asal AS di lokasi Chu Chi Tunnel.

Lelah seharian mengunjungi tempat-tempat bersejarah, malamnya wisatawan diajak makan malam di Saigon River Cruise, sebuah restoran di atas cruise yang mengelilingi delta sungai mekong yang membelah kota.

Saigon tak ubahnya kota-kota besar di dunia. Bila ditilik secara seksama, mirip seperti Jakarta yang menjadi pusat bisnis dan hiburan masyarakat metropolitan. Hotel berbintang hingga kelas backpacker berderet di sepanjang jalan utama. Tempat-tempat kongkow seperti bar and cafe, karaoke, spa, serta jenis’ hiburan’ lain digeber selama 24 jam.

Tidak mengherankan bila wanita-wanita langsing Vietnam yang seliweran setiap saat menjadi pemandangan indah para pria penikmatnya.

Saigon boleh dibilang surganya para pelancong mancanegara. Bagi Anda yang senang belanja, tak perlu khawatir. Seluruh pernak pernik khas Vietnam seperti mug, gantungan kunci, kaos, topi Vietnam/Vietcong, caping dan souvenir lain ada di Ben Thanh Market dengan sistem pengelolaan patungan melalui skema kerja sama 50:50 antara pemerintah dan swasta.

Pasar tradisional ini terbilang unik, selain harga miring, juga menawarkan suasana belanja yang berbeda. “Bebas, sesuai selera masing-masing pengunjung. Bagi yang nggak mau ribet dengan urusan tawar menawar, tersedia area fixed price. Sebaliknya di sini juga ada blok khusus bagi mereka yang suka melakukan tawan menawar saat berbelanja,” seloroh Tour Guide, Nguyen The Nghia.

Namun, sergah Nguyen, harap berhati-hati ketika berjalan-jalan di Kota Saigon dan pastikan tas atau hand carry Anda berada di depan badan. Mengingat, tingkat kriminalitas di kota ini cukup tinggi. Copet yang menyaru sebagai wisatawan maupun menggunakan kendaraan bermotor selalu mengintai dan kerap beraksi saat Anda lengah. Mereka tak segan-segan merampas barang-barang berharga milik Anda termasuk tas yang diletakkan di belakang badan.

Selain Ben Thanh, wisatawan juga dapat secara bebas belanja di toko-toko khusus souvenir di sepanjan jalan utama Kota Saigon. Hanya saja, harga yang ditawarkan di sini sedikit lebih mahal dibanding pasar tradisional. Derasnya wisatawan asal Malaysia dan Indonesia ternyata berimbas pada lihainya para pedagang di kedua pusat perbelanjaan tersebut berbahasa Melayu. Tak heran, bila mereka tergolong mahir mengucapkan pecahan mata uang Rupiah.

“Sudah setahun terakhir pedagang di sini (Vietnam) bertransaksi menggunakan Rupiah. Karena, lebih menguntungkan jika di tukar dengan mata uang Dong Vietnam,” imbuh Nguyen.

Berbeda dengan kondisi di Kota Hanoi di utara Vietnam. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Tiongkok ini justru menampilkan suasana yang jauh lebih teratur dan asri. Maklum, kawasan ini dihuni oleh mayoritas masyarakat berstatus pegawai negeri sipil (PNS), kaum pelajar, dan manula.

Selain menikamti pemandangan jalan-jalan yang tertata rapi dengan pepohonan rindang, wisatawan pun dapat menyaksikan bangunan kuno khas arsitektur Perancis. Suhu udara di Hanoi lebih dingin, rata rata 16-17 derajat celcius. Karenanya, saat berada di kota ini para wisatawan disarankan mengenakan jaket.

Seperti halnya Saigon, di kota tersebut pihak travel dan Kementrian Pariwisata Vietnam masih mengedepankan wisata sejarah. Para wisatawan pun diajak mengunjungi temple of literature, sebuah bangunan kuno berasitektur Tingkok yang merupakan universitas tertua di Vietnam.

Menurut Toni, Local Guide, dalam sebuah kawasan yang cukup luas, terdapat Danau Hoan Kiem, One pillar Pagoda, dan Ho Chi Minh House – sebuah bangunan megah bercat dominan kuning yang merupakan kantor maupun ex rumah the founding father Vietnam, Presiden Ho Chi Minh (Uncle Ho). Di kawaswan ini, juga ada tempat bersejarah lain, seperti gedung parlemen, Museum Ho Chi Minh, dan kantor Partai Komunis Vietnam.

“Kami hanya mempunyai satu Partai Komunis. Karenanya, saat pemilihan umum (Pemilu) yang digelar lima tahun sekali hanya memilih anggota parlemen. Sementara, presiden dipilih oleh mereka (anggota parlemen),”ungkapnya.

Menurut Toni, meski sistem pemerintahan sosialis-komunis, namun sistem perekonomian justru liberal. Sehingga, dalam kurun waktu 10 terakhir Pemerintah Sosialis Vietnam lebih terbuka kepada Investor asing. Hal ini berkat kebijakan pemerintah yang mengeluarkan kebijakan ekonomi yang pro pasar. Dimana, pada kongres Partai keenam tahun 1986, pemerintah memperkenalkan paket reformasi ekonomi atau lebih dikenal Doi Moi (Renovasi) secara menyuruh kepada para pelaku pasar.

Dijelaskan Toni, selain Hanoi, Pemerintah Vietnam juga masih memiliki destinasi wisata andalan. Adalah Ha Long Bay, salah satu keajaiban dunia dengan gugusan lebih dari 3000 pulau batu karang. Bahkan, keindahan teluk ini pernah diangkat dalam salah satu serial film James Bond, “Tomorrow Never Dies”.

Ha Long Bay terletak di Kota Ha Long, Vietnam. Dari pusat Kota Vietnam, dapat ditempuh dengan jalan darat selama kurang lebih empat jam. Saat ini Pemerintah Vietnam tengah membangun kawasan wisata terpadu yang terdiri dari hotel, apartmen, serta mal untuk menambah fasilitas yang memudahkan wisatawan dalam menghabiskan waktu liburnya di Vietnam.

Check Also

Raih Peringkat 9 Perguruan Tinggi Terbaik, Universitas Pancasila Catat Berbagai Prestasi

Universitas Pancasila Raih Peringkat Sembilan Dari 50 PTS Terbaik di DKI Jakarta

JAKARTA – Lewat kerjasama dan kerja keras civitas academica Universitas Pancasila, prestasi perguruan tinggi yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.