Thursday , 12 May 2022
Home / Uncategorized / Investasi di Indonesia Kian Mudah

Investasi di Indonesia Kian Mudah

Hingga paruh pertama 2015, penanaman modal asing (PMA) di Indonesia tumbuh 20 persen, tertinggi di Asia Tenggara. Demikian menurut data World Investment Report 2015 milik United Nations Conference Trade and Development (UNCTAD). Data ini memberikan optimisme bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi potensial di Asean bahkan Asia. Terlebih pemerintah saat ini sedang memperbaiki indikator kemudahan berusaha (doing business) di tanah air sehingga daya saing investasi Indonesia semakin meningkat.

Karenanya, BKPM berjanji akan membuka pintu lebih luas bagi pemilik modal melalui berbagai kemudahan berusaha. Kepala BKPM, Franky Sibarani optimistis pertumbuhan PMA Indonesia meningkat seiring dengan upaya perbaikan iklim investasi. Untuk itu, BKPM tengah bekerja sama dengan kementerian dan lembaga lain guna memperbaiki tujuh dari sepuluh indikator indikator kemudahan berusaha.

Ketujuh indikator tersebut meliputi proses memulai usaha, izin mendirikan bangunan, pendaftaran properti, penyambungan listrik, pembayaran pajak, penegakan kontrak, dan penyelesaian perkara kepailitan.

“Kita telah mempresentasikan perbaikan yang dilakukan kepada Bank Dunia, sehingga diharapkan peringkat daya saing investasi Indonesia semakin meningkat,” tuturnya, awal Juli 2015.

Menyadari bahwa indeks kemudahan berusaha Indonesia masih di bawah rata-rata negara Asia Tenggara lain, Franky berharap pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna menarik investasi asing ke Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) dengan sejumlah negara termasuk Uni Eropa, seperti yang telah dilakukan Vietnam.

Kebijakan tersebut sangat efektif karena investor asing yang menanamkan modal ke Vietnam diberikan kemudahan dalam memperoleh lahan untuk kegiatan usaha, sehingga investasi bisa bertumbuh pesat. “Vietnam harus kita akui akan menjadi salah satu pesaing terberat kita. Saat ini, Indonesia masih berada di bawah Vietnam dalam menarik investasi dari Korea Selatan. Samsung dan LG adalah dua perusahaan Korsel yang memilih Vietnam sebagai basis produksinya di Asean,” jelas Franky.

Seperti diketahui, World Bank Group menempatkan Indonesia pada peringkat 114 dari 189 negara yang disurvei dalam indeks kemudahan berusaha 2015, di mana posisi ini membaik dibanding tahun sebelumya dengan peringkat 120. Meskipun demikian, peringkat Indonesia jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia (peringkat 18) atau Filipina (peringkat 95).

BKPM mengatakan bahwa salah satu kebijakan yang dinilai mampu meningkatkan peringkat Indonesia di indeks kemudahan berusaha adalah amandemen terkait ketentuan minimum modal disetor pada pembentukan Perseroan Terbatas (PT) pada pasal 33 UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dengan mengandemen pasal tersebut, BKPM berharap salah satu indikator indeks kemudahan berusaha, starting a business, bisa sejajar dengan negara-negara lainnya.

Sedangkan laporan World Investment Report 2015 sendiri menunjukkan bahwa pertumbuhan PMA Indonesia mencapai 20 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi diantara negara Asean lainnya, di mana pertumbuhan Singapura sendiri mencapai 4,2 persen meskipun jumlah PMA-nya sebesar USD67,5 miliar, atau tiga kali lipat lebih besar dari Indonesia.

Di sisi lain, Thailand mengalami penurunan pertumbuhan investasi sebesar 10,3 persen. Sedangkan Vietnam hanya berhasil membukukan investasi asing senilai 3 persen akibat kebijakan peningkatan upah minimum.

Target Rp7.000 Triliun

Sementara itu, BKPM menargetkan dapat menarik minat investasi yang diwujudkan melalui pengajuan izin prinsip (IP) hingga Rp7.000 triliun selama 2015-2019. Target ini naik dua kali lipat dari realisasi investasi periode tersebut.

Dalam lima tahun mendatang, BKPM mematok realisasi investasi Rp3.500 triliun. Jumlah ini merupakan kontribusi sektor investasi untuk menopang target rata-rata pertumbuhan ekonomi 7 persen yang ditetapkan pemerintah.

Berdasar analisis BKPM, selama ini rata-rata rasio realisasi investasi sekitar 40 – 50 persen dari rencana yang izin prinsipnya diajukan ke BKPM. Artinya untuk mencapai realisasi investasi Rp3.500 triliun, BKPM membutuhkan pengajuan izin prinsip hingga Rp 7.000 triliun.

Diungkapkan Franky, stok izin prinsip antara 2010 – April 2015 yang diharapkan dapat terealisasi dalam kurun waktu 2015 – 2019 tercatat Rp4.125 triliun. Untuk itu, pihaknya masih harus mengejar izin prinsip investasi hingga Rp3.000 triliun.    

Diakui Franky, target tersebut memang cukup berat mengingat kondisi perekonomian global yang cenderung melambat. Meski demikian, dirinya tetap optimistis BKPM dapat memenuhinya karena minat investasi ke Indonesia masih tinggi. Dia merujuk kepada hasil kunjungannya ke Jepang pada 25-29 Mei lalu.

Sepanjang Oktober 2014 – Mei 2015, BKPM tercatat mengawal minat investasi yang diharapkan segera masuk dalam pengajuan izin prinsip senilai USD151,1 miliar atau sekitar Rp196,43 triliun dari tujuh sektor. Yakni kelistrikan, hilirisasi pertanian, maritim, industri padat karya, industri substitusi impor, hilirisasi produk tambang, dan infrastruktur.      

Hal itu menunjukkan tingginya minat investasi ke Indonesia dalam enam bulan terakhir. Karena itu, pihaknya optimistis minat investasi ke depan tetap tinggi menyusul pengakuan lembaga pemeringkat internasional terhadap kondisi Indonesia.

Check Also

Raih Peringkat 9 Perguruan Tinggi Terbaik, Universitas Pancasila Catat Berbagai Prestasi

Universitas Pancasila Raih Peringkat Sembilan Dari 50 PTS Terbaik di DKI Jakarta

JAKARTA – Lewat kerjasama dan kerja keras civitas academica Universitas Pancasila, prestasi perguruan tinggi yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.