Thursday , 12 May 2022
Home / Uncategorized / Euforia Negeri Maritim

Euforia Negeri Maritim

Berangkat dari pemikiran sebagai negeri maritim yang harus memiliki wawasan dan konsep kemaritiman secara nyata, wacana tol laut kini terus dikumandangkan dan menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin dirampungkan.

Dalam konsep tol laut yang didasarkan pada konsep pendulum nusantara yang didukung dengan 24 pelbuhan di Indonesia. Ke-24 pelabuhan tersebut diantaranya, Pelabuhan Banda Aceh, Belawan, Kuala Tanjung, Dumai, Batam, Padang, Pangkal Pinang, Pelabuhan Panjang. Selanjutnya, Pelabuhan Tanjung Priok, Cilacap, Tanjung Perak, Lombok, Kupang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Maloy, Makassar, Bitung, Halmahera, Ambon, Sorong, Merauke dan Jayapura.

Dari 24 pelabuhan tersebut, lima diantaranya akan ditetapkan sebagai pelabuhan utama yang akan menjadi jalur utama tol laut dan harus memiliki tingkat kedalaman yang cukup untuk dilintasi kapal-kapal besar berbobot 3.000 sampai dengan 10.000 twentyfoot equivalent units (TEUs), yakni pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Sorong. Pelabuhan lainnya akan berfungsi sebagai pelabuhan pengumpul.

Pemerintah memang berharap, program tol laut itu dapat kelancaran distribusi barang hingga ke pelosok melalui interkoneksi antar-pelabuhan di Tanah Air. Tak hanya pelabuhan utama dan pelabuhan pengepul, untuk mendukung konsep tol laut akan disiapkan dua pelabuhan yang akan sebagai pelabuhan internasional yang disediakan bagi kapal-kapal asing, yakni Kuala Tanjung dan Bitung. Dari pelabuhan hub internasional itu, perjalan kargo akan diteruskan ke pelabuhan-pelabuhan utama.

Secara keseluruhan, berdasarkan kalkulasi yang dilakukan Bappenas, anggaran pembangunan tol laut dalam lima tahun ke depan, membutuhkan dana sekitar Rp700 triliun. Konsepnya, sumber anggaran pembangunan mega proyek tol laut yang membutuhkan anggaran fantastis tersebut akan berasal dari pemerintah, BUMN, BUMN, dan swasta.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam beberapa lawatannya ke beberapa negara seperti Tiongkok dan Jepang, sempat menawarkan investasi pembangunan 24 pelabuhan sebagai peyangga utama konsep tol laut.

Belakangan, hasil lawatan tersebu membuahkan hasil dengan adanya ketertarikan sejumlah investor asal Tiongkok untuk berinvestasi dalam pembangunan 24 pelabuhan tersebut. Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dua investor asal Tiongkok disebut telah menyatakan komitmennya untuk berinvestasi sekitar US $2 miliar dalam proyek pembangunan 24 pelabuhan.

Sebagai catatan, berdasarkan hitung-hitungan Bappenas untuk membangun 24 pelabuhan itu dibutuhkan dana sekitar Rp 39,5 triliun, baik untuk pembangunan pelabuhan di wilayah Sumatera, Pulau Jawa, maupun di kawasan Timur Indonesia.

Menurut Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Dedy S Priatna, untuk 2015, anggaran pembangunan tol laut pada dasarnya telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Pada 2015, anggaran untuk pembangunan tol laut nilainya mencapai Rp9,9 triliun. Sumber anggarannya akan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sekitar Rp7,9 triliun serta penyertaan modal negara (PMN) kepada PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV sebesar Rp2 triliun. Pengembangan tol laut tersebut meliputi: pembangunan hub, pembangunan feeder (pengumpul), sub feeder, dan pelabuhan serta pelayaran rakyat.

Pengembangan Tol Laut

Program tol laut, bukan hanya pembangunan pelabuhan, tetapi juga harus didukung dengan pembangunan infrastruktur penunjang atau komplementer dari tol laut, seperti lintasan penyeberangan. Sejalan dengan program Sabuk Nusantara, untuk mendukung program tol laut, pada 2015-2019 rencananya akan dilakukan penyelesaian dan penguatan jalur lintas penyeberangan Sabuk Utara, Sabuk Tengah, dan Sabuk Selatan, serta poros penghubung yang merupakan bagian dari pembangunan lintas penyeberangan di seluruh Indonesia.

Dalam konsep tol laut ini juga, Presiden Jokowi, menginginkan adanya kapal yang selalu melintas baik kapal kosong maupun kapal terisi pada lintasan perjalanan manapun di wilayah perairan Indonesia.

Tetapi, mewujudkan konsep tol laut bukanlah perkara mudah. Untuk menyelesaikan pembangunan pelabuhan utama yang rencanya akan dilalui kapal berbobot 3.000-10.000 TEUs, tantangannya cukup berat.

Rata-rata tingkat kedalaman alur laut pada pelabuhan-pelabuhan yang utama yang ada di Indonesia hanya mencapai minus 10 meter. Padahal untuk bisa dilalui kapal berbobot 3.00 TEUs lebih arus kedalaman laut minimal harus mencapai minus 14 meter.

Malah menurut Dedi S Priyatna, untuk bisa dilalui kapal berbobot 10 ribu TEUs tingkat kedalaman arus laut di Indonesia harus mencapai minus 20 meter sampai minus 24 meter. Sehingga harus dilakukan pengerukan lagi agar tingkat kedalaman alur laut memadai untuk bisa dilalui kapal-kapal berukuran besar.

Menurut Direktur Eksekutif IMI, Y Paonganan, tidak mudah membangun Indonesia menjadi negara maritim dengan konfigurasi geografis yang terdiri atas ribuan pulau. Konektivitas laut merupakan hal yang vital. Tetapi, yang jelas, semua pelabuhan harus dibangun dan dikuasi negara, dan tidak diserahkan kepada negara lain. Itu sebabnya, dia menolak diserahkannya pembangunan 24 pelabuhan kepada investor asal Tiongkok.

Beratnya tantangan mewujudkan tol laut juga diungkapkan Wakil Ketua Himpunan Ahli Pelabuhan Indonesia, Wahyono Bimarso. Menurutnya, meskipun secara konsep cukup baik, namun untuk mewujudkannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Selain kendala tingkat kedalaman alur laut, lamanya waktu membanguan pelabuhan, kendala pebangunan infrastruktur penunjang pelabuhan lainnya, serta kebutuhan dana yang sangat besar, akan menjadi tantangan besar dalam mewujudkan konsep tol laut tersebut.

Apalagi, Presiden Jokowi juga sempat menyatakan bahwa konsep tol laut tersebut nantinya juga akan diintegrasikan dengan jaringan rel kereta api di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sampai di Papua. Dengan demikian, jangka waktu penyelesaian konsep tersebut juga akan menjadi tantangan yang tidak mudah.

Check Also

Raih Peringkat 9 Perguruan Tinggi Terbaik, Universitas Pancasila Catat Berbagai Prestasi

Universitas Pancasila Raih Peringkat Sembilan Dari 50 PTS Terbaik di DKI Jakarta

JAKARTA – Lewat kerjasama dan kerja keras civitas academica Universitas Pancasila, prestasi perguruan tinggi yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.