Friday , 20 May 2022
Home / Uncategorized / Ekonomi Lesu, Asuransi Jadi Korban

Ekonomi Lesu, Asuransi Jadi Korban

Hingga kini fundamental ekonomi Indonesia memang masih cukup rentan oleh berbagi kondisi internal maupun eksternal. Bahkan, ekspektasi harapan tinggi masyarakat terhadap kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla belum mampu merubah keadaan. Satu persatu, aktivitas bisnis di Tanah Air mulai terseok-seok.

Fakta membuktikan bahwa di tengah perlambatan ekonomi dan lesunya industri otomotif, di sepanjang kuartal I-2015, sejumlah perusahaan asuransi umum membukukan kinerja cukup mengecewakan. Salah satunya adalah PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) dengan kinerja premi bruto tercatat turun 5 persen pada Januari-Maret tahun ini.

Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengungkapkan, pendapatan premi bruto pada kuartal I-2015 mengalami penurunan 5 persen menjadi Rp300 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut dia, lesunya kinerja perseroan diakibatkan oleh rendahnya harga komoditas, menurunnya kinerja otomotif, dan belum banyaknya realisasi investasi baru.

“Banyak proyek yang belum dijalankan pada tiga bulan pertama di 2015. Ada juga proyek di sektor marine cargo yang dibatalkan. Pelemahan memang sudah diprediksi, apalagi per April 2015, kenaikan masih lambat,” ungkapnya, di Jakarta, awal Mei 2015.

Jika dirinci, sektor primadona Aswata, misalnya marine cargo, kendaraan bermotor, dan oil and gas kompak mencatatkan penurunan pada kuartal I/2015. Sebaliknya, lini bisnis properti justru tumbuh, kendati tipis. Meski begitu, Christian belum berencana memangkas target pertumbuhan sebesar 15-20 persen tahun ini. “Jika kinerja kuartal kedua tahun ini terbukti mengikuti penurunan pada tiga bulan awal 2015, maka pemangkasan target tidak terelakkan,” ujarnya.

Perusahaan asuransi lainnya yang bergantung terhadap industri kendaraan bermotor adalah PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance). Perusahaan ini juga mencatatkan penurunan premi bruto 2,5 persen menjadi Rp433 miliar pada periode yang sama. Adapun, premi asuransi kendaraan bermotor turun 9 persen menjadi Rp271 miliar, sedangkan asuransi non kendaraan bermotor justru merangkak naik 11 persen menjadi Rp162 miliar.

“Tahun ini, kami fokus untuk menggenjot kontribusi premi non kendaraan bermotor menjadi 55 persen, dan kendaraan bermotor di angka 45 persen. Hal itu tidak terlepas dari melambatnya penjualan kendaraan bermotor pada kuartal I/2015,” kata Presiden Direktur Adira Insurance Indra Baruna.

Tidak jauh berbeda, PT AIG Indonesia masih mencatatkan kerugian hingga Rp4,24 miliar pada kuartal I/2015. Jika dirinci, kerugian perusahaan umum patungan ini justru membengkak dibandingkan Januari-Maret 2015 senilai Rp3,51 miliar. Pendapatan premi bruto hanya naik tipis menjadi Rp205,55 miliar, sedangkan klaim bruto melesat 49 persen menjadi Rp59,99 miliar pada saat yang sama.

Produk Investasi Marak

Sementara itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia memperkirakan industri asuransi umum bakal diramaikan oleh kehadiran produk asuransi berbasis investasi pada tahun ini. Pasalnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana membolehkan perusahaan asuransi umum untuk menjual produk proteksi dengan investasi.

Hal tersebut tercantum dalam Pasal 5 UU tentang Perasuransian bahwa perluasan ruang lingkup usaha asuransi umum dan asuransi jiwa dapat berupa penambahan manfaat yang besarnya didasarkan pada hasil pengelolaan dana. Untuk memperjelas perluasan lingkup tersebut, regulator bakal mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) dalam waktu dekat.

“Kami meyakini produk berbasis investasi akan mendongkrak penjualan asuransi umum. Sampai saat ini, belum ada perusahaan asuransi umum yang menjual produk semacam itu karena regulasi memang belum ada,” ucap Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Julian.

Tidak hanya itu, Julian mengatakan kehadiran produk berbasis investasi akan semakin menambah variasi produk yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi umum. Ungkapan senada juga dilontarkan Direktur Keuangan PT Asuransi Sinar Mas Dumasi M.M. Samosir yang menyatakan pihaknya juga berharap POJK tersebut segera keluar. “Kami sedang menyiapkan sejumlah produk yang bisa dibundel dengan investasi. Nanti kalau POJK sudah keluar, kami bisa langsung ajukan izin ke OJK,” pungkas Samosir.

Check Also

Raih Peringkat 9 Perguruan Tinggi Terbaik, Universitas Pancasila Catat Berbagai Prestasi

Universitas Pancasila Raih Peringkat Sembilan Dari 50 PTS Terbaik di DKI Jakarta

JAKARTA – Lewat kerjasama dan kerja keras civitas academica Universitas Pancasila, prestasi perguruan tinggi yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.